30/30 Challenge
By Aliif Arief · 4 minutes
November 2025 aku sempat berdiskusi panjang dengan orangtuaku soal bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang baik. Cara mereka dulu ya berteman sebanyak mungkin dengan wanita, katanya semakin banyak berteman semakin besar kemungkinannya. Aku sudah sempat coba itu, dan jujur kurasa tidak berhasil buatku. Setelah diskusi dan negosiasi yang cukup panjang, akhirnya aku secara tersirat diperbolehkan untuk mencoba jalanku sendiri dengan batasan-batasan tertentu.
Waktu itu pun aku tidak sedang dekat dengan siapapun. Diskusi itu bukan karena ada wanita yang aku dekati, murni karena aku ingin mencoba pendekatan yang berbeda dan belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Sempat ketemu beberapa orang tapi ya tidak ada yang bisa lanjut, either aku yang tidak cocok atau dia yang tidak cocok. Aku tidak mau setengah-setengah jadi ya sudah, lost contact atau ku cut off.
Random chat
Sampai suatu waktu di akhir Desember 2025, aku yang lagi bingung mau ngapain di kosan akhirnya iseng buka bot Telegram @chatbot_ugm. Aku tahu bot itu dari teman, dan kita memang sama-sama pernah kuliah di UGM. Normally sih aku tidak pernah berpikir bakal suka sama seseorang dari sini karena kebanyakan ya isinya orang aneh atau ngobrol semalam saja terus besoknya udah lost contact.
Tapi Senin malam 22 Desember 2025 itu beda.
Aku ketemu seseorang. Dari awal aku langsung straightforward. aku mau ngobrol, mengisi waktu, dan lebih suka call daripada chat karena aku memang lebih nyaman ngomong daripada ngetik. Dia bilang baru pertama kali main bot ini, tapi dia mau dan kami pun ngobrol cukup lama malam itu. Aku merasa nyaman ngobrol dengannya, dia pun begitu katanya. Kami bertukar nomor WhatsApp dan mulai komunikasi lebih lanjut.
The beginning
Komunikasi di WhatsApp lumayan intens. Makin ngobrol makin aku merasa cocok dengannya, dari cara menjalani kehidupan di perantauan, kondisi ekonomi, ekspektasi, target hidup, dream life after marriage, pandangan soal uang, boundary, cara berkomunikasi serta bercanda dan lain-lain pokoknya banyak deh. Kami juga sama-sama anak sulung. terlalu banyak hal yang klik.
What about visually? She is absolutely my type. Skinny, sporty, tall, gorgeous, and sweet. Sorry I can’t hide that words hahaha.
Kita memang sama-sama pernah kuliah di UGM tapi belum pernah bertemu secara sadar karena beda angkatan dan beda fakultas juga. Aku bingung bagaimana memulainya, tapi yang aku tahu wanita itu butuh kepastian. Aku takut sebenernya untuk mengungkapkan perasaan karena aku belum pernah berpacaran sebelumnya sama sekali, jadi ini benar-benar wilayah baru buatku. Tapi kalau aku tidak segera bergerak, she will be taken by someone else. Dan aku tidak mau itu.
So I tried to be brave, mengungkapkan perasaanku dan mengajaknya berkenalan lebih dalam dengan tujuan yang jelas.
Dan ternyata dia pun suka denganku juga. Bertepuk dua tangan deh jadinya hahaha.
Challenge 30/30
Aku mengajaknya memulai sebuah challenge. Selama 30 hari berturut-turut, kita masing-masing harus jalan atau lari minimal 3km per hari dan direkam pakai Strava. Selain itu, setiap hari pasti harus chat dan komunikasi, buat laporan sekaligus saling mengenal lebih dalam tentang banyak hal. Kalau berhasil, aku akan pergi ke Jogja untuk ketemu dan merayakan bersama. I know it’s kinda weird, but yeah this is us.
Kedengarannya simpel. Kenyataannya tidak selalu.
Saat itu kondisinya dia magang di dua klinik vet sekaligus. Aku lagi di tengah-tengah sprint agile yang cukup padat karena ada fitur yang harus rilis di akhir bulan. Belum lagi cuaca, hujan deras yang datang pas jam-jam kosong satu-satunya yang ada. Ada hari-hari di mana salah satu dari kami benar-benar tidak bisa lari, entah karena kelelahan setelah shift panjang atau hujan tidak berhenti sampai malam.
Di situlah sistem backup kami mulai terbentuk sendiri. Kami pakai fitur “Run With” di Strava, kalau salah satu tidak bisa, yang satu lagi tetap harus bisa. Bukan soal siapa yang menanggung beban lebih banyak, tapi soal memastikan rantainya tidak putus. Saling backup, saling jaga streak, dan ternyata itu sendiri sudah jadi bentuk komunikasi dan komitmen yang cukup nyata.
Aku belajar dari melihat orangtuaku bahwa perasaan dan sparks itu fluktuatif. Diawal hubungan kita sering merasa berbunga-bunga, tapi seiring waktu itu akan turun jika hanya mengandalkan perasaan. Yang bikin hubungan bertahan bukan seberapa besar sparksnya, tapi konsistensi, komitmen, dan komunikasi. Apalagi kalau dimulai dengan LDR. Challenge ini buat aku adalah media untuk membangun habit bersama sejak awal, memelihara, sekaligus mengukur seberapa serius kita berdua.
Nikmat sekali rasanya menjalani Challenge ini, seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sehat dapat, pasangan dapat, komunikasi dapat, mutual effort dapat, cerita yang seru untuk diceritakan ditulisan ini juga dapat hahaha, ah pokoknya I never see other people doing something like this, building relationship by combining between sparks and engineered system and this is how we started.
Completed and then Started
Finally, 28 Januari 2026, hari ke 30/30. We did it.
30 hari streak, tidak ada yang putus. Bukan berarti semuanya mudah, karena memang tidak. Tapi kami berhasil, dan itu yang penting. tidak berhenti disini challenge ini pun terus berlanjut karena kita baru saja memulai perjalanan panjang kita.
I’m so happy and proud of us. I can’t wait to see you in Jogja.
Tulisan lanjutan tentang perjalananku ke Jogja dan akhirnya kami bertemu ada di tulisan selanjutnya, stay tuned haha!
----
✍️ at 07:46 on January 1, 2026🆕 at 10:10 on February 15, 2026